Pertanian Organik di Indonesia

Di Indonesia luas lahan yang dikelola secara organik berkisar 40.000 ha. Luasan lahan organik di Indonesia ini termasuk didalamnya lahan pertanian alami seperti kebun campuran dan sebagainya. Untuk kawasan Asia, Indonesia memiliki potensi besar dengan terdapatnya sekitar 45.000 kebun organik.

Permasalahan Seputar Pertanian Organik

a. Penyediaan pupuk organik

Permasalahan pertanian organik di Indonesia sejalan dengan perkembangan pertanian organik itu sendiri. Pertanian organik mutlak memerlukan pupuk organik sebagai sumber hara utama. Dalam sistem pertanian organik, ketersediaan hara bagi tanaman harus berasal dari pupuk organik. Padahal dalam pupuk organik tersebut kandungan hara per satuan berat kering bahan jauh dibawah realis hara yang dihasilkan oleh pupuk anorganik, seperti Urea, TSP dan KCl. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan dasar tanaman (minimum crop requirement) cukup membuat petani kewalahan. Sebagai ilustrasi, untuk menanam sayuran dalam satu bedengan seluas 1 x 10 m saja dibutuhkan pupuk organik (kompos) sekitar 25 kg untuk 2 kali musim tanam atau setara dengan 25 ton/ha. Bandingakan dengan penggunaan pupuk anorganik Urea TSP dan KCl yg hanya membutuhkan total pemupukan sekitar 200-300 kg/ha. Karena memang umumnya petani kita bukan petani mampu yang memiliki lahan dan ternak sekaligus, sehingga mereka mesti membeli dari sumber lainnya dan ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi disamping tenaga yang lebih besar.

b. Teknologi pendukung

Teknik bercocok tanam yang benar seperti pemilihan rotasi tanaman dengan mempertimbangkan efek allelopati dan pemutusan siklus hidup hama perlu diketahui. Pengetahuan akan tanaman yang dapat menyumbangkan hara tanaman seperti legum sebagai tanaman penyumbang Nitrogen dan unsur hara lainnya sangatlah membantu untuk kelestarian lahan pertanian organik. Selain itu teknologi pencegahan hama dan penyakit juga sangat diperlukan, terutama pada pembudidayaa pertanian organik di musim hujan.

c. Pemasaran

Pemasaran produk organik didalam negeri sampai saat ini hanyalah berdasarkan kepercayaan kedua belah pihak, konsumen dan produsen. Sedangkan untuk pemasaran keluar negeri, produk organik Indonesia masih sulit menembus pasar internasional meskipun sudah ada beberapa pengusaha yang pernah menembus pasar international tersebut. Kendala utama adalah sertifikasi produk oleh suatu badan sertifikasi yang sesuai standar suatu negara yang akan di tuju. Akibat keterbatasan sarana dan prasarana terutama terkait dengan standar mutu produk, sebagian besar produk pertanian organik tersebut berbalik memenuhi pasar dalam negeri yang masih memiliki pangsa pasar cukup luas. Yang banyak terjadi adalah masing-masing melabel produknya sebagai produk organik, namun kenyatannya banyak yang masih mencampur pupuk organik dengan pupuk kimia serta menggunakan sedikit pestisida. Petani yang benar-benar melaksanakan pertanian organik tentu saja akan merugi dalam hal ini.

d. Kesalahan Persepsi

Masyarakat awam menganggap produk organik adalah produk yang bagus tidak hanya dari segi kandungan nutrisi namun juga penampilan produknya. Kenyataannya produk organik itu tidaklah selalu bagus, sebagai contoh daun berlobang dan berukuran kecil, karena tidak menggunakan pestisida dan zat perangsang tumbuh atau pupuk an organik lainnya. Pada tahun awal pertaniannya belum menghasilkan produk yang sesuai harapan.

Sebagian petani kita terbiasa menggunakan pupuk anorganik yang akan memberikan respon cepat pada tanaman. Seperti misalnya pemupukan Urea akan menghasilkan tanaman yang pertumbuhannya cepat, sementara dengan pemupukan organik pengaruh perubahan pertumbuhan tanaman tergolong lambat. Baru pada musim ketiga dan seterusnya, efek pupuk organik tersebut menunjukkan hasil yang nyata perbedaannya dengan pertanian non organik. Sehingga dapat disimpulkan pertanian organik di tahun-tahun awal akan mengalami banyak kendala dan membutuhkan modal yang cukup untuk bertahan.

e. Sertifikasi dan Standarisasi

Beberapa lembaga standarisasi pertanian organik adalah sebagai berikut:

  1. Standar Internasional

Standar IFOAM. Standar dasar untuk produk organik dan prosesnya dari IFOAM sejak 1980. The Codex Alimentarius. Standar yang disusun dengan penyesuaian standar IFOAM dengan beberapa standar dan aturan lain.

2. National dan supranational regional
3. Standard setiap negara

Departemen Pertanian juga telah menyusun standar pertanian organik di Indonesia, tertuang dalam SNI 01-6729-2002. Sistim pertanian organik menganut paham organik proses, artinya semua proses sistim pertanian organik dimulai dari penyiapan lahan hingga pasca panen memenuhi standar budidaya organik, bukan dilihat dari produk organik yang dihasilkan. SNI sistim pangan organik ini merupakan dasar bagi lembaga sertifikasi yang nantinya juga harus di akreditasi oleh Deptan melalui PSA (Pusat Standarisasi dan Akreditasi). SNI Sistem pangan organik disusun dengan mengadopsi seluruh materi dalam dokumen standar CAC/GL 32 ? 1999, Guidelines for the production, processing, labeling and marketing of organikally produced foods dan dimodifikasi sesuai dengan kondisi Indonesia.

Bila dilihat kondisi petani di Indonesia, hampir tidak mungkin mereka mendapatkan label sertifikasi dari suatu lembaga sertifikasi asing maupun dalam negri. Luasan lahan yang dimiliki serta biaya sertifikasi yang tidak terjangkau, menyebabkan mereka tidak mampu mensertifikasi lahannya. Satu-satunya jalan adalah membentuk suatu kelompok petani organik dalam suatu kawasan yang luas yang memenuhi syarat sertifikasi, dengan demikian mereka dapat pembiayaan sertifikasi usaha tani mereka secara gotong royong. Namun ini pun masih sangat tergantung pada kontinuitas produksi mereka.

Solusi yang dibutuhkan Pertanian Organik, di bidang Riset, Ekonomi dan Lingkungan

Banyak bidang penelitian yang terkait dalam mendukung perkembangan pertanian organik. Dimulai dari kajian tentang penyediaan mikroba yang dapat mendekomposisi bahan organik dalam waktu singkat, sehingga penyediaan pupuk organik dapat terpenuhi. Kemudian pengetahuan tentang kesesuaian tanaman yang ditanam secara multikultur, dan pemutusan siklus hama dengan rotasi tanaman. Hingga saat ini belum ada hasil penelitian yang dapat menjelaskan hal tersebut, petani hanya mencoba-coba dari beberapa kali pengalaman mereka bercocok tanam tersebut.

Pengendalian hama dan penyakit tanaman secara alami merupakan hal terberat dalam sistim pertanian. Kegagalan panen merupakan ancaman besar buat petani, sehingga sangat dibutuhkan riset tentang bahan alami yang mengandung bahan insektisida dan penerapannya dalam pertanian. Pengetahuan akan perbaikan lahan dengan sistim pertanian organik sudah diketahui, namun sejauh mana sistim ini menjaga keberlangsungan lahan pertanian perlu diketahui melalui penelitian neraca hara dalam jangka waktu panjang. Kajian di segi pemasaran dan ekonomi juga akan sangat berperan dalam menembus pasar internasional produk organik Indonesia.

Keuntungan pertanian organik

Sejumlah manfaat dari pengembangan pertanian organik, antara lain:

  • Meningkatkan pendapatan petani karena adanya efisien pemanfaatan sumber daya dan impressive premium produk,

  • Menghasilkan pangan yang cukup, aman dan berkualitas sehingga meningkatkan kesehatan masyrakat dan sekaligus daya sains produk agribisnis,

  • Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi petani,

  • Meminimalkan semua bentuk polusi yang dihasilkan dari kegiatan pertanian,

  • Meningkatkan dan menjaga produktivitas lahan pertanian dalam jangka panjang serta

  • Memelihara kelestarian sumber daya alam lingkungan dan menciptakan lapangan kerja baru dan keharmonisan sosial di pedesaan.

Pengaruh Terhadap Sifat Fisik Tanah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan yang digenangi dalam rangka persiapan penanamnan padi yang dicampur dengan pupuk organik lebih homogen dari pada lahan kering. Kerapatan padatan lokal, total porositas dan stabilitas agregat permukaan tanah dapat diperbaiki dengan penerapan pertanian organik

Pengaruh Terhadap populasi Mikroba Tanah

Mikroflora tanah adalah heterotrop yaitu menggunakan senyawa organik yang tersedia untuk memperoleh karbon dan energi yang akan dipergunakan untuk kelanjutan metabolisme, pertumbuhan dan reproduksi. Perubahan aktivitas mikrobial tanah sering dihubungkan dengan perubahan input karbon ke dalam tanah sebagai hasil aplikasi pupuk kandang atau sisa tanaman. Oleh karena itu penerapan pertanian organik yang meningkatkan masukan pupuk kandang atau kompos termasuk polong polongan dengan rotasi yang teratur dapat meningkatkan populasi mikroba dan aktivitas aktivitas metabolisme, pertumbuhan dan reproduksi mikroba tanah.

Pengaruh Terhadap Sifat Kimia Tanah

Kandungan bahan organik konsisten dengan jumlah pupuk organik yang ditambahkan. Total kandungan Nitrogen pada tanah dan kandungan ketersediaan Pospor dalam tanah pada lahan pertanian organik lebih tinggi dari pada lahan pertanian konvensional, selanjutnya kandungan Mg, Ca dan K yang dapat dipertukarkan pada perlakuan pupuk kandang dan pupuk hijau lebih tinggi dari pada hanya menggunakan pupuk kimia. Dan dalam jangka panjang pertanian organik dapat meningkatkan ketersediaan P,K dan Ca dibandingkan dengan pertanian konvensional.

Kendala pertanian organik

Peran serta pemerintah dalam pengembangan pertanian organik kepada masyarakat (petani) sangat kurang. Selain itu tingkat kesadaran petani terhadap penerapan pertanian organik pada lahannya masih rendah dan masih memanfaatkan bahan kimia.

Referensi:

Husnain, Haris Syahbuddin, Diah S., 2005. Mungkinkah Pertanian Organik di Indonesia, Peluang dan Tantangan. Inovasi 4:8-14.