Bagus Wahyu Nugroho (0610430009)
Jurusan Tanah, FP-UB

1. Pendahuluan
Keberlanjutan pembangunan pertanian, demikian juga pariwisata sangat dipengaruhi oleh kondisi sumber daya alam. Bila kondisi sumberdaya alam sudah mengalami degradasi, hutan rusak, lahan kritis, dan air mengering maka keberlanjutan pertanian pun akan terganggu. Hutan mengalami kerusakan, alih fungsi lahan pertanian khususnya sawah semakin meningkat, lahan kritis dan kekeringan, permukaan air danau menurun, sungai mengalami kekeringan, dan terjadi pencemaran air permukaan. Bagaimana kita bisa bertani pada lahan yang sudah kritis, untuk tumbuhnya saja tanaman sudah sulit, apalagi untuk berproduksi. Demikian juga halnya bila ketersediaan air mulai berkurang. Air merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi pertumbuhan tanaman. Bila air terbatas maka produksi pertanian akan sangat terganggu.
Sistem pertanian yang tidak mengikuti kaídah konservasi juga dapat merusak lingkungan. Bertani di lereng yang curam, menanam tanaman tegak lurus dengan garis kontur akan mempercepat proses kemiskinan hara tanah, tingkat erosi yang tinggi, dan pendangkalan sungai serta waduk menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan sistem usaha pertanian di masa depan. Di samping itu, pemberian pupuk dan pestisida kimiawi yang berlebihan akan mengakibatkan pencemaran air dan tanah. Oleh karena itu kita harus mengarahkan kembali paradigma pertanian ke arah sistem pertanian berkelanjutan. Sistem pertanian yang berkelanjutan adalah sistem pertanian yang tidak merusak, tidak mengubah, serasi, selaras, dan seimbang dengan lingkungan atau pertanian yang patuh dan tunduk pada kaídah-kaidah alamiah. Apabila sumberdaya alam dan lingkungan terjaga denganbaik maka akan dapat menunjang pembangunan pertanian, demikian juga sebaliknya.

Lokasi : Desa Selok Awar-awar Kecamatan Pasirian

Di desa Selok Awar-awar Kecamatan Pasirian ± 18 Km dari kota Lumajang kearah Selatan dengan jarak tempuh ± 35 menit dari Kecamatan Pasirian, terdapat obyek wisata Pantai Watu Pecak yang berada sebelah Timur Pantai Bambang. Seperti Pantai Bambang, Pantai Watu Pecak merupakan obyek wisata Pantai Selatan dengan ciri ombak besar dan dipergunakan sebagai tempat upacara Melasti / sesuci bumi umat Hindu Dharma Bali.

2. Pemanfaatan lahan lebih lanjut

Pasir pantai selatan ini terdiri atas berbagai komponen yang sebagian besar berukuran pasir dan debu. Bahan-bahan ini terutama berasal dari deposit pasir hasil kegiatan erupsi gunung Semeru yang berada di bagian utara. Deposit pasir ini diangkut dan diendapkan dengan berbagai kecepatan serta bercampur dengan berbagai bahan baik yang berasal dari daerah aliran sungai maupun yang berasal dari laut. Bahan pasir ini dicirikan terutama oleh ukuran butir yang kasar, butir tungal yang lepas-lepas. Sifat-sifat ini menimbulkan karakteristik daya menahan air yang sangat rendah, kandungan hara terutama hara P tersediakan rendah sampai sangat rendah, dan kapasitas pertukaran kation yang sangat rendah. Sebagai konsekuensi dari karakteristik tanah yang demikian itu adalah tingkat kesuburan tanah dan taraf kehidupan biota tanah sangat rendah. Tanah biasanya gersang, tidak produktif sehingga sering juga disebut tanah marginal. Karakteristik lahan yang diuraikan di atas disertai oleh temperatur permukaan yang tinggi dan hembusan angin yang kencang yang berakibat evapotranspirasi sangat tinggi. Sifat-sifat lahan seperti di atas merupakan seperangkat faktor-faktor yang sangat tidak menguntungkan untuk pertum-buhan tanaman.

Analisis Sifat-Sifat Tanah yang dilakukan:
Sifat-sifat tanah baik sifat fisik (tekstur) dan sifat kimia tanah (pH, kandungan garam, kadar hara makro dan mikro) sangat menentukan keragaan pertumbuhan tanaman. Dalam penelitian ini akan dianalisis beberapa sifat-sifat tanah, meliputi:
Sifat fisik tanah : tekstur, komposisi fraksi pasir, permeabilitas, berat jenis dan berat volume
Sifat kimia tanah : pH, tingkat kegaraman, hara makro
Lahan pasir sisa penambangan dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Beberapa jenis komoditas pertanian yang ditanam di lahan tersebut, antara lain kacang tanah, bawang merah, dan padi IR-64. Tanaman ini tumbuh dengan baik, tetapi harus diimbangi dengan penyiraman yang baik.
Penambahan panjang pantai tiap tahunnya merupakan keunggulan daerah ini, karena tiap tahun jumlah lahan yang dapat ditanami juga bertambah. Sehingga produktifitas pada wilayah tersebut juga besar.
Sebaran Bentuk Muka Bumi dan Potensinya
1. Sebaran bentuk muka bumi
Muka bumi kita ada yang merupakan daerah pegunungan, gunung, dataran rendah, dataran tinggi, lembah, dan lain-lain. Perbedaan bentuk muka bumi ini sebenarnya merupakan potensi penunjang kehidupan manusia.

2. Potensi lahan bagi kehidupan
Sebaran bentuk muka bumi berpengaruh terhadap cara pemanfaatan lahan, baik untuk keperluan pertanian, industri, pemukiman, perdagangan dan keperluan lainnya. Oleh karena itu pengetahuan tentang bentuk muka bumi ini sangat penting artinya dalam menunjang kehidupan manusia.
Lahan (land) merupakan lingkungan fisik dan biotik yang berkaitan dengan daya dukungnya terhadap perikehidupan dan kesejahteraan hidup manusia. Lingkungan fisik ini bisa berupa relief/topografi, iklim, tanah, dan air. Sedangkan lingkungan biotik adalah tumbuhan, hewan, dan manusia. Secara umum lahan ini dapat digolongkan pada 2 jenis yaitu lahan potensial dan lahan kritis.

1. Lahan potensial
Lahan potensial bisa diartikan sejauh mana sebuah tanah bisa bermanfaat secara optimal bagi kehidupan manusia. Ini berarti lahan ini tidak hanya berhubungan dengan bercocok tanam tetapi bisa untuk keperluan lain yang bermanfaat. Misalnya sebidang tanah bisa saja tidak potensial untuk dijadikan bercocok tanam (pertanian), tetapi sangat potensial dijadikan pemukiman atau daerah industri. Kriteria mengukur lahan potensial tentu saja tidak sama disesuaikan dengan bentuk muka bumi.
• Daerah pegunungan
Lahan potensial di daerah pegunungan memiliki kemiringan antara 15 s.d. 30% dengan ketinggian 10 s.d. 300 meter dari permukaan laut. Daerah ini intensitas erosi relatif kecil walaupun curah hujannya besar. Kesuburan tanah bergantung pada batuan induk pembentukan pegunungan serta tingkat pelapukannya. Jika batuan dari hasil vulkanisme, maka tanahnya cukup subur.
Daerah potensial pegunungan ini sangat cocok dimanfaatkan sebagai daerah perkebunan. Hambatan daerah ini antara lain bahaya longsor, erosi, atau tanah rayap. Usaha penanggulangannya dapat menanam pohon pelindung, teknik pengolahan tanah (sengkedan), dan lain-lain.
• Daerah dataran rendah
Lahan potensial di daerah dataran rendah memiliki ciri, di antaranya kemiringan antara 3 s.d. 15% dengan perbedaan ketinggian antara 5 s.d. 10 meter dari permukaan laut. Lahan ini relatif memiliki pengikisan yang kecil, sedangkan tata airnya cukup baik. Umumnya tanah merupakan hasil endapan aluvial hasil erosi yang diangkut oleh air sungai yang mengalir dari daerah vulkanis, sehingga tanah ini memiliki kesuburan yang tinggi.
Lahan ini sangat baik dimanfaatkan untuk pertanian intensif. Kendalanya adalah terutama adanya gangguan genangan air yang cukup lama, apalagi setelah banjir. Penanggulangannya perlu dilakukan penggunaan tanah secara teratur disesuaikan dengan kondisi fisis setempat dan pembuatan atau perbaikan saluran air.
• Daerah pantai
Lahan potensial di daerah pantai memiliki kemiringan kurang dari 3% dan perbedaan tinggi kurang dari 5 meter, serta umumnya terdapat pada pantai yang datar. Adanya kemiringan dan perbedaan tinggi rendah, maka lahan pantai ini terletak pada daerah pasang surut air laut. Karena subur, daerah ini banyak ditumbuhi pohon bakau. Hutan bakau ini sangat bermanfaat untuk menahan abrasi dan mencegah perembesan air laut.

Lahan potensial di daerah pantai dapat dimanfaatkan untuk usaha tambak udang dan bandeng. Kendalanya adalah adanya pasang surut air. Tetapi dengan membuat sistem saluran dan pengaturan air yang tepat dapat mengatasi kendala tersebut. Selain itu daerah ini bisa dimanfaatkan untuk usaha penggaraman dan usaha wisata bahari.

2. Lahan kritis
Lahan kritis adalah lahan yang kemampuan produksinya sangat kurang, baik dalam bidang pertanian, industri, pemukiman, atau keperluan lainnya. Jika lahan kritis dihubungkan dengan pertanian, maka lahan kritis yang dimaksud adalah lahan tandus dan sudah tidak mampu berproduksi lagi. Di lahan kritis biasanya sifat-sifat fisik dan kimia tanah sudah hilang. Begitu pula hampir seluruh lapisan tanah paling atas (lapisan subur) juga sudah hilang. Hal ini disebabkan oleh cepatnya proses erosi dan transportasi pada tanah tersebut, sementara proses pembentukan tanah memakan waktu yang relatif lama
• Daerah pegunungan
Lahan kritis di daerah pegunungan disebabkan oleh adanya longsor, erosi, atau tanah rayap. Lapisan tanah yang paling atasnya hampir habis. Sisanya tinggal tanah tandus bahkan dalam bentuk tanah cadas (keras). Lahan kritis ini banyak dijumpai di lereng terjal dengan tanah terbuka dan tandus, atau di pegunungan yang hutannya sudah rusak.
• Daerah dataran rendah
Di dataran rendah juga ditemukan lahan kritis. Lahan ini biasanya disebabkan oleh genangan air atau proses sedimentasi (pengendapan) bahan tertentu yang menutupi lapisan tanah yang subur. Penyebab utamanya adalah tanahnya lebih rendah dari daerah sekitarnya, sehingga ketika hujan terjadi air tidak bisa mengalir dan tergenang di daerah itu.
• Daerah pantai
Terjadinya abrasi biasanya menyebabkan terjadinya lahan kritis di sekitar pantai, karena lapisan sedimen akan hancur dan lenyap. Kejadian ini biasanya terjadi pada muara sungai yang pantainya terbuka dengan gelombang laut besar.
Lahan kritis terjadi karena ketidakseimbangan pemanfaatan dan pengolahan atau kecerobohan dalam pengolahan lahan. Oleh karena itu lahan kritis sebenarnya bisa ditanggulangi, di antaranya dengan cara mencegah penebangan hutan yang berlebihan, reboisasi (penanaman kembali pohon) pemupukan yang seimbang terutama penggunaan pupuk alami, serta pengolahan tanah yang tepat, misalnya dengan membuat sengkedan.
Luas hutan mangrove di Indonesia pada tahun 1999 mencapai 8,60 juta hektar dan yang telah mengalami kerusakan sekitar 5,30 juta hektar. Kerusakan tersebut antara lain disebabkan oleh konversi mangrove menjadi kawasan pertambakan, pemukiman, dan industri, padahal mangrove berfungsi sangat strategis dalam menciptakan ekosistem pantai yang layak untuk kehidupan organisme akuatik. Konversi mangrove yang tidak terkendali dibarengi dengan penumpukan limbah organik dari sisa pakan dan feses pada budi daya udang intensif disinyalir telah menyebabkan munculnya berbagai jenis penyakit udang di tambak. Keseimbangan ekologi lingkungan perairan pantai akan tetap terjaga apabila keberadaan mangrove dipertahankan karena mangrove dapat berfungsi sebagai biofilter, agen pengikat dan perangkap polusi. Mangrove juga merupakan tempat hidup berbagai jenis gastropoda, kepiting pemakan detritus, dan bivalvia pemakan plankton sehingga akan memperkuat fungsi mangrove sebagai biofilter alami. Berbagai jenis ikan baik yang bersifat herbivora, omnivora maupun karnivora hidup mencari makan di sekitar mangrove terutama pada waktu air pasang.

Potensi – potensi SDA di daerah pesisir yang dapat dimanfaatkan antara lain:

1. Estuaria (daerah pantai pertemuan antara air laut dan air tawar); berpotensi sebagai daerah penangkapan ikan (fishing grounds) yang baik.
2. Hutan mangrove (ekosistem yang tingkat kesuburannya lebih tinggi dari Estuaria ) ; untuk mendukung kelangsungan hidup biota laut.
3. Padang Lamun (tumbuhan berbunga yang beradaptasi pada kehidupan di lingkungan bahari) ; sebagai habitat utama ikan duyung, bulubabi, penyu hijau, ikan baronang, kakatua dan teripang.
4. Terumbu Karang (ekosistim yang tersusun dari beberapa jenis karang batu tempat hidupnya beraneka ragam biota perairan).
5. Pantai Berpasir (tempat kehideupan moluska) ; memiliki nilai pariwisata terutama pasir putih.

Lampiran: Foto – foto lahan yang perlu dikembangkan di Pantai Watu Pecak.